skip to Main Content
JANGAN LUPA LIKE - COMMENT - SHARE & SUBSCRIBE >>
Perayaan Tahun Baru, Kemeriahan Dan Pesta Pora, Patutkah?

Perayaan Tahun Baru, Kemeriahan dan Pesta Pora, Patutkah?

Perayaan Tahun Baru. Siapa yang tidak pernah melihat atau ikut merayakan Perayaan tahun baru. Saya rasa semua orang pasti tahu dan pernah merayakan perayaan tahun baru. Konsep dari tahun tahun baru adalah memperbaharui, atau menutup hari-hari yang lama dan menyambut hari-hari yang baru di tahun yang baru.

Biasanya untuk menyambut perayaan Tahun Baru, beberapa orang ada yang sampai mendekorasi rumah, ada yang membeli pakaian baru, ada yang juga yang mempersiapkan segala macam makanan dan juga minuman.

Perayaan tahun baru juga biasanya menjadi pemuasan bagi kaum hedonis (para pencari kesenangan). Selain itu Tahun Baru juga merupakan tahun pemabukan internasional. Kita semua tahu, dan sudah menyaksisak sendiri kebiasaan yang sering dilakukan oleh banyak orang di tahun baru, biasanya orang-orang akan jalan-jalan keluar rumah, konvoi, membakar petasan, kembang api, meniup terompet dan yang tidak selalu ketinggalan adalah pesta alkohol. Kalau di Bali biasanya di tambah dengan menyetel musik keras-keras di pos-pos tertentu yang ada di dalam gang atau di pinggir-pinggir jalan (suaranya sangat keras dan sangat mengganggu sekali)

Memang tidak semua orang mempunyai kebiasaan yang sama dan tidak semua orang juga senang dengan suasana ramai, bising dan mengganggu orang lain dengan pesta-pesta yang tidak memberikan manfaat apa-apa dan sering kali pesta Tahun Baru berujung pada tindakan kekerasan dan mengganggu ketenangan orang lain dengan membakar petasan.

Anak-anak biasanya sangat suka dengan suasana Tahun Baru, karena penuh dengan kemeriahan dan kebebasan untuk bermain hingga larut malam. Saya secara pribadi punya kenangan dengan tahun baru. Saya selalu menanti-nantikan tahun baru, agar saya bisa bermain di luar rumah sampai malam, menyalakan kembang api atau petasan. Sungguh menyenangkan sekali merayakan tahun baru saat saya masih kecil.

Setelah saya besar dan senang membaca tentang banyak hal, menikah dan akhirnya punya anak. Saya merasa apa yang saya sudah lakukan waktu dulu yang berhubungan dengan Tahun Baru, membuat saya menjadi malu dan apa yang sudah saya lakukan adalah kesia-siaan saja, kalau bisa kembali ke waktu itu saya tidak ingin melakukan dan mengikuti perayaan-perayaan seperti itu lagi. Bahkan saya tidak ingin mengajarkan kepada Anak saya untuk membeli petasan dan kembang Api yang suaranya bisa memekakkan telinga dan orang-orang yang ingin beristirahat pada malam hari (Sejak anak saya masih kecil sudah saya ajarkan kalau suara petasan akan mengganggu orang lain dan juga membahayakan dirinya sendiri).

Apa saja yang dilakukan pada Perayaan Tahun Baru

Hampir di semua Negara, perayaan tahun baru akan dimulai pada tanggal 31 Januari dan akan dilanjutkan sampai tanggal 1 Januari tetapi hanya sampai dini hari saja. Seperti yang sudah saya katakan di atas perayaan Tahun Baru biasanya dirayakan dengan makan makanan bersama keluarga atau teman dekat.

Kebiasaan yang tidak pernah lepas sat merayakan Perayaan Tahun Baru adalah menonton pesta kembang Api dan minum-minuman berakohol. Selain itu ada hal lain yang juga biasa dilakukan oleh banyak orang saat tahun Baru adalah membuat sebuah resolusi. Praketk membuat resolusi di Tahun baru diperkirakan pertama kali ditemukan di bangsa Babilonia kuno.

Kalau di Amerika Serikat, ada sebuah tradisi Tahun Baru yang sangat terkenal dan mungkin ikonik. Menjatuhkan bola raksasa di Times Square, New York City saat tengah malam tiba. Ini adalah acara yang sangat populer dan banyak orang di seluruh dunia yang menonton acara tersebut. Hal ini sudah dilakukan sejak tahun 1907.

Sejarah Tahun Baru di Masa Lalu

Merayakan Tahun Baru memang bukan sebuah hal yang baru. Berdasarkan artikel yang kami baca di JW.ORG (Sumber yang sangat bisa dipercaya). Sebuah Inskripsi kuno menunjukkan kalau peristiwa itu juga pernah diadakan di Babilonia sekitar permulaan milenium ketiga SM. Bedanya perayaan itu diadakan pada pertengahan pada bulan Maret. Jadi Dewa Marduk pada waktu itu memutuskan nasib dari bangsa itu untuk tahun selanjutnya, Berdasarkan informasi dari The World Book Encyclopedia. Selain itu Perayaan Tahun Baru Babilonia diadakan selama 11 hari dan biasanya dengan cara memberikan korban-korban, pawai dan juga ritus kesuburan.

 

Selama beberapa waktu orang-orang Romawi memulai tahun mereka pada waktu itu di mulai pada bulan Maret. Belakangan sekitar tahun 46 SM, Kaisar mereka Yulius Caesar membuat perubahan dengan menetapkan tahun baru mereka seharusnya di awali setiap bulan Januari. Dan hari itu dibaktikan untuk dewa mereka Janus, dewa asal mula, dan sampai sekarang itu menandai hari pertama tahun Romawi. Memang tanggalnya sudah dirubah, tetapi perayaan dan suasana ingar bingarnya masih ada. Setiap awal Bulan Januari, orang-orang “menyerahkan diri mereka kepada tingkah laku yang tidak baik dan bahkan sampai kelewat batas”.

Kini Anda Tahu Tentang Tahun Baru, Apa yang Harus Anda Lakukan?

Jadi sekarang kita bisa tahu, asal mula Tahun Baru berasal dari Orang-orang Romawi yang tidak mengenal dan menyembah Allah (Pencipta) yang benar. Awalnya Perayaan Tahun Baru ditujukan untuk dewa orang Romawi yang bernama Janus.

Janus

Dari pengetahuan tentang ini, Anda sudah bisa memutuskan sendiri apa yang harus Anda lakukan di kemudian hari, Apakah perlu merayakan Tahun Baru dengan hal-hal yang tidak baik? Semua itu kembali kepada diri kita masing-masing, karena setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan apa yang menjadi pilihak dan jalan hidup mereka sendiri.

Pandangan Alkitab (Buku Tua) Tantang Hal Ini.

Jika Anda membaca dan melihat sendiri apa yang di catat dalam buku yang bernama Alkitab, orang-orang yang mengaku menjadi pengikut Kristus (kristen) Supaya “berjalan dengan sopan, tidak dengan pesta pora dan bermabuk-mabukan”. (Roma 13:12-14; Galatia 5:19-21; 1 Petrus 4:3) kita semua bisa melihat, kemeriahan Tahun Baru memang selalu identik dengan tingkah laku yang kelewat batas dan Alkitab mengutuk hal itu, Orang yang mengaku Kristen sebaiknya bisa bersahaja dan tidak mengikuti kegiatan pesta pora dan kemeriahan seperti itu. Sebagai Manusia (Agama apapun itu) kita sebaiknya memastikan apakah sebuah perayaan itu berasal dari hal-hal yang benar atau bersifat kafir? Tapi ingat, ini bukan berarti orang kristen Anti terhadap segala macam kesenangan. Kita perlu memastikan kebiasaan-kebiasaan yang ada berasal dan ditujukan kepada siapa? Rasul Paulus menulis, ”Apakah ada persekutuan antara keadilbenaran dengan pelanggaran hukum? Atau apakah ada persamaan antara terang dengan kegelapan? Selanjutnya, apakah ada keselarasan antara Kristus dan Belial?” Sungguh tepat, Paulus menambahkan, ”Berhentilah menyentuh perkara yang najis.”—2 Korintus 6:14-17a.

Semenarik dan sememikat apapun Perayaan Tahun Baru, sebagai Manusia kita perlu selalu bersahaja dan mengendalikan diri di setiap tingkah laku kita setiap harinya. Meskipun bagi kita ada beberapa perayaan yang salah, kita tidak boleh menghakimi dan melarang orang untuk merayakan perayaan apapun itu dengan cara Memaksa apalagi sampai mengancam. Biarlah pengetahuan yang kita dapatkan ini menjadi sebuah pengetahuan dan pengingat kita. selain itu Alkitab juga memperingatkan kepada orang-orang Kristen untuk selali bersahaja dan mengendalikan diri dari tingkah laku yang tidak baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top